Digitalisasi Sekolah di Wonogiri Dipercepat, Muatan Lokal Dihidupkan Lewat Teknologi
Digitalisasi pembelajaran di Wonogiri mulai diterapkan dengan Internet Flat Panel, sekaligus menguatkan muatan lokal dan mendukung pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik 2026.
Wonogiri – Transformasi pendidikan berbasis digital mulai diterapkan di sejumlah sekolah dasar di Wonogiri, Jawa Tengah. Penggunaan perangkat Internet Flat Panel menggantikan papan tulis konvensional, sekaligus menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan terukur.
Hal tersebut terungkap saat kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq ke SD Katolik Kanisius Wonogiri, Rabu (15/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, siswa kelas 5 menunjukkan langsung pengalaman belajar berbasis teknologi di ruang kelas.
Kunjungan ini juga dilakukan bersama Bupati Wonogiri untuk memastikan kesiapan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di tingkat sekolah dasar, sekaligus meninjau arah transformasi pembelajaran.
Dari hasil peninjauan, terlihat bahwa teknologi telah menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran, mulai dari proses login sistem ujian, stabilitas jaringan, hingga interaksi belajar berbasis layar digital.
“TKA memberi gambaran objektif tentang capaian belajar siswa. Dengan dukungan teknologi, proses pembelajaran dan asesmen menjadi lebih terukur dan transparan,” ujar Fajar.
TKA tingkat SD dijadwalkan berlangsung pada 20–30 April 2026 dan tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan instrumen diagnosis nasional. Hasilnya akan digunakan untuk memetakan kesenjangan pembelajaran serta merumuskan kebijakan berbasis data.
Menariknya, digitalisasi pembelajaran di Wonogiri juga dimanfaatkan untuk menguatkan muatan lokal. Di SD Kanisius Wonogiri, pembelajaran Bahasa Jawa dilakukan melalui Internet Flat Panel dengan pendekatan visual dan interaktif.
Kepala Sekolah SD Kanisius Wonogiri, Nina Christantini, menyampaikan bahwa teknologi tersebut memudahkan siswa dalam memahami materi, termasuk pengenalan aksara Jawa melalui metode yang lebih menarik.
“Melalui flat panel, siswa dapat belajar aksara Jawa sekaligus mempraktikkannya dalam bentuk permainan interaktif,” ujarnya.
Menurut Fajar, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak boleh mengabaikan identitas lokal, melainkan harus memperkuatnya.
“Transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan nilai dan budaya lokal,” katanya.
Penguatan Peran Guru
Selain meninjau sekolah, Wamendikdasmen juga menghadiri kegiatan Penguatan Forum Guru Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Wonogiri, Selasa (15/4). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 guru.
Dalam forum tersebut, Fajar menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh peran guru dalam merancang pembelajaran yang adaptif dan relevan.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
“Kita ingin sekolah menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan digitalisasi, asesmen berbasis data, dan penguatan nilai lokal, Wonogiri dinilai menjadi salah satu contoh penerapan transformasi pendidikan yang lebih komprehensif. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

